Subscribe Now

* You will receive the latest news and updates on your favorite celebrities!

Trending News

Kategori

Ulasan Rumah adat Sumatera Suku batak dan Suku Nias
Rumah, Rumah Adat, Rumah adat sumatera

Ulasan Rumah adat Sumatera Suku batak dan Suku Nias 

Rumah adat Sumatera – Sumatera Utara merupakan salah satu wilayah dengan suku yang cukup banyak, memiliki banyak budaya dan bahasa serta adat istiadat yang berbeda. Rumah adat Sumatera Utara juga cukup banyak, pembagian suku yang ada di Sumatera Utara membedakan setiap rumah adat dengan filosofi.

Suku yang ada di Sumatera Utara adalah suku batang angkola yang merupakan suku dari marga Harahap, Ritonga, Hutashut, Tanjung, Rame, Hasibua, Daulay dan Siregar. Suku batak karo yang berada di Langkat Hulu, dataran tinggi Karo, Deli Hulu dan sebagian di Karo. Suku batak mandailing berada di Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Labuhanbatu Utara dan Selatan, Asahan, dan Batubara.

Selain itu, terdapat suku pakpak yang berasal dari kerajaan Chola dari India dan menyerang Sriwajaya pada abad ke 11 dan berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Dairi. Suku simalungun yang berada di Kabupaten Simalungun dan sebagian dari Kotamadya Pematangsiantar.

4 Rumah adat Sumatera

1. Rumah Bolon (Sumatera Utara)

2. Rumah Gadang (Sumatera Barat)

3. Rumah Limas (Palembang)

4. Rumah Bade (Banda Aceh)

rumah adat aceh

Suku Batak dan Rumah adat Batak

Suku batak toba yang memiliki populasi yang cukup banyak dan berada di area danau toba, pula samosir, sekitar Sibolga dan Baru serta Bukit Barisan. Suku melayu langkat yang banyak bermukim di perkotaan Medan. Suku Nias yang berada di pulau Nias dan memiliki panggilan Anak Manusia atau Ono Niha dan Tano Niha atau tanah manusia.

Suku batak memiliki rumah adat Sumatera Utara yang disebut sebagai rumah bolon. Suku batak memiliki nilai hagabeon yang memiliki anak dan cucu berumur panjang. Hagabeion merupakan simbol atas keberhasilan dan pernikahan dimana laki-laki sebagai penurus marga dan memiliki 33 aturan dan seiring berkembangnya dunia maka semakin terganti nilai baru yang lebih memperhatikan kualitas dibandingkan dengan kuantitas.

Penjelasan tentang Hamoraan

Hamoraan yang memiliki kehormatan dengan seimbangnya spiritual dan materil dimana seorang akan dianggap terhormat bila memiliki kesuksesan dan baik terhadap orang lain terdapat uhum yang merupakan hukum mutlak dan ugari sebagai kebiasaan terhadap janji yang telah dikomitmenkan. Seseorang yang memiliki suku batak harus siap melakukan kesepakatan dan jika berkhianat akan dianggap bercela dan menerima sanksi adat.

Suku batak memiliki nilai pengayoman dimana dianut untuk sesama, memiliki unsur Daliha Na Tolu yang dipercaya memiliki nilai magis untuk saling melindungi. Hubungan digambarkan sebagai jaring laba-laba yang saling terkait dalam nilai adat.

Arti Marsisarian

Marsisarian merupakan makna untuk saling mengerti dan membantu maupun menghargai dengan nilai ini maka akan meminimalisir terjadinya konflik antar sesama dalam suatu kelompok masyarakat. Suku batak memiliki nilai kekerabatan yang menjunjung nilai adat dengan pertalian perkawinan, tutur kata dan martatombo dimana mencari persaudaraan dengan pertalian pada sesama marganya.

Berikut adalah bagian dari rumah adat Sumatera Utara suku batak diantaranya:

  • Bagian atap merupakan bagian atas yang memiliki bentuk seperti punggung kerbau dengan bentuk melengkung, konsep ini terlihat aerodinamis untuk melawan angin berasal dari danau, atap rumah terbuat dari ijuk yang dianggap sebagai sesuatu hal yang suci.
  • Pintu masuk rumah berada pada bagian depan, dengan tampilan ukiran, lukisan unik dan tulisan dengan pintu yang menjorok pada dalam dengan lebar 80 cm memiliki ketinggian 1,5 meter.
  • Dengan badan rumah pada bagian tengah yang memiliki makna sebagai dunia tengah, dunia tengah dianggap sebagai tempat beraktivitas untuk manusia seperti bersantai, bersenda gurau dan memasak.
  • Pondasi rumah yang berbentuk cincin dengan tumpuan kolom kayu pada bagian atasnya, dengan tiang penyangga bangunan diameter sekitar 42 hingga mencapai 50 cm dan membentuk batu ojahan dengan ukuran struktur fleksibel sehingga aman terhadap gempa.
  • Dinding rumah yang memiliki kemiringan sehingga akan membuat angin masuk dari luar menuju dalam rumah atau disebut sebagai ret-ret yang terbuat dari bahan rotan dan ijuk dengan pola cicak yang saling bertolak belakang bagian kepalanya.

Penjelasan Detail Rumah adat Sumatera Utara

Rumah adat Sumatera Utara untuk suku batak dengan rumah toba merupakan rumah khas yang memiliki pembatas setiap ruangan dengan bagian ruangan jabu bona, jabu suhat, jabu soding, jabu tonga-tonga dan jabu tampar piring. Rumah karo atau siwaluh jabu sebagai bangunan delapan keluarga yang berbentuk megah dan memiliki bentuk tanduk, ruangan yang dibagi menjadi jabu lepan ujung, jabu lepan bena kayu, jabu sedapur bena kayu dan jabu sedapur lepan ujung kayu.

Rumah pakpak yang banyak berada di Kabupaten Dairi dan Aceh berasal dari India dengan bentuk lambe-lambe yaitu segitiga dengan ijuk sebagai penutupnya. Rumah simalungun merupakan rumah panggung dari marga Purba, Damanik, Sinaga dan Saragih yang memiliki bangunan dari kayu kokoh dan kaku, dengan lantai dari kau dan dindingnya terbuat dari tepas. Bagian kolong rumah digunakan sebagai tempat untuk memelihara ternak.

Selain suku batak, Sumatera Utara memiliki suku tertua yaitu Suku Nias. Asal mula dari Nias adalah langit atau disebut sebagai nidada moroi ba langi. Keterbatasan terhadap pengetahuan dan pemahaman menyebabkan orang zaman dulu mendapat anggapan bahwa hanya ada satu daratan yaitu Yanah Nias.

Leluhur dan Rumah adat

Berdasarkan teori menyebutkan bahwa leluhur mereka berasal dari Cina di bagian selatan atau Yunan, didasarkan pada kajian arkeologi dan linguistik. Berdasarkan data menunjukkan bahwa masyarakat Nias termasuk dalam penutur bahasa austronesia yang melakukan perpindahan dari Yunan dan berdasarkan hipotesis kedatangan manusia di Niassekitar 1250 M hingga 1416 M atau disebut sebagai koloni Cina di wilayah Singkuang.

Sejak kedatangan Ono Niha maka terdapat adat istiadat, hukum, peneguhan hukum dan silsilah yang perlu diperhatikan di Pulau Nias. Budaya Nias masih sekitar bertenak babi, ayam, serta membuka ladang maupun berkebun.

Untuk menghormati nenek moyang Nias maka mereka melakukan penyembahan terhadap patung-patung dan menjunjung tinggi dengan memberikan syair pemujaan. Suku nias dengan kebudayaan tinggi dengan hukum ada disebut fondrako yang mengatur segala kematian maupun kelahiran. Masyarakat kuno dengan budaya megalitik dengan batu besar yang berada di daerah-daerah.

Di zaman dulu Nias memiliki kebudayaan megalitik dengan karya yang terlihat seperti tugu, kursi batu hingga arca arwah. Peninggalan megalitik ini terlihat pada rumah adat Sumatera Utara atau disebut sebagai omo hada yang berada diatas batu besar pipih dengan tiang kayu besar. Rumah adat ini memiliki ukuran kuno. Agama mayoritas di Nias adalah Kristen Protestan dan beberapa Islam.

Berikut adalah fakta suku Nias diantaranya:

  • Bertarung merupakan hal yang mendarah daging dengan mengayau maupun memburu kepala manusia sebagai ritual dengan pemburuan.
  • Memiliki harga diri yang tinggi terutama para marga dan desa untuk mempertahankan kehormatan sejak budaya megalitikum.

Rumah adat Sumatera Utara di Nias memiliki Omo Sebua dan Omo Hada. Omo Sebua merupakan rumah untuk kaum bangsawan dan Omo Hada untuk masyarakat umum. Walaupun dalam provinsi yang sama, Suku Batak dan Suku Nias hidup berdampingan dengan baik terutama saat ini yang saling menikah dengan suku lainnya.

Berikut adalah Lokasi lokasi yang terdapat banyak rumah adat :

  • Makkasar
  • Manado
  • Paku
  • Kendari
  • Bitung
  • Gorontalo
  • Palopo
  • Baubau

Populasi Sumatera hingga saat ini :

  • South Sulawesi (8.815.900)
  • West Sulawesi (1.359.300)
  • Central Sulawesi (3.042.200)
  • Southeast Sulawesi (2.663.700)
  • Gorontalo (1.176.900)
  • North Sulawesi (2.512.200)
  • Total (19.573.300)

Related posts

Tinggalkan Balasan

Required fields are marked *